KARAWANG, Sampalan ,inspirasirakyat.id — Tolok ukur kebesaran suatu bangsa kerap terjebak pada angka-angka kaku pembangunan fisik dan megaproyek beton. Padahal, benteng pertahanan paling hakiki dari kedaulatan sebuah negara tidak dibangun di gedung-gedung pencakar langit, melainkan dirajut dari unit terkecil tatanan sosial: ruang domestik bernama keluarga.
Pesan substansial tersebut ditegaskan oleh Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes. Dalam pandangannya, kapasitas sebuah daerah untuk melakukan lompatan peradaban sangat bergantung pada sejauh mana kebijakan pembangunan keluarga mampu terinternalisasi hingga ke ruang-ruang privat warga.(22/10/2026)
Pernyataan itu disampaikan di hadapan ratusan warga dalam giat Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang berlangsung di GOR Desa Sampalan, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang.
Mengunci Kedaulatan dari Pilar Lokal
Di hadapan warga dan jajaran pemangku kebijakan lintas instansi, legislator Partai Demokrat yang juga mantan Bupati Karawang tersebut menggarisbawahi bahwa program tematik strategis—seperti Genting, Tamasya, Gati, Sidaya, hingga Sakina—bukan sekadar daftar rutin instrumen teknokratis, melainkan indikator vital kemajuan peradaban lokal.
”Pembangunan keluarga tidak boleh terisolasi sebagai urusan domestik belaka. Ini harus dimaknai sebagai fondasi geopolitik paling mendasar yang menentukan daya saing dan kedaulatan bangsa di panggung global,” tegas Cellica.
Ia menambahkan, perburuan menuju mimpi besar Indonesia Emas 2045 akan menjadi utopia belaka tanpa intervensi radikal di lini hulu: kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh sebab itu, rekayasa sosial melalui sinergi presisi antara ayah dan ibu dalam perencanaan keluarga menjadi sebuah imperatif moral sekaligus strategi pemungkas.
Konsolidasi Lintas Sektor: Melawan Stunting, Mengikis Patriarki Pengasuhan
Forum strategis yang merangkul Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Pemprov Jawa Barat, serta Pemkab Karawang ini membedah tiga poros intervensi utama:
Eradikasi Stunting & Presisi Nutrisi: Menjamin asupan gizi tanpa kompromi sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) demi memotong siklus kemiskinan intelektual.
Kemandirian Ekonomi Domestik: Memperkuat daya tahan finansial serta fungsi perlindungan sosial di tingkat rumah tangga agar kebal dari guncangan ekonomi.
Redefinisi Pengasuhan (Ayah Teladan): Membongkar dogma lama pengasuhan tunggal oleh ibu dengan menyeret peran aktif figur ayah ke dalam diskursus tumbuh kembang anak.
Dari Dialektika Tapak Menjadi Gerakan Kebudayaan
Suasana sosialisasi berlangsung dinamis saat sekat antara pemangku kebijakan dan warga Desa Sampalan mencair dalam dialektika kritis. Kesadaran kolektif warga yang terbangun di lapangan turut diapresiasi melalui penyerahan bantuan stimulus finansial dan sarana penunjang ketahanan rumah tangga.
Lewat konsolidasi dari tingkat akar rumput di Kutawaluya ini, pembangunan keluarga ditransformasikan: tak lagi sekadar angka-angka di atas kertas laporan dinas, melainkan menjelma menjadi gerakan kebudayaan untuk melahirkan generasi penerus yang tangguh, berakal budi, dan siap menantang zaman.
Laporan: Teguh Brawijaya