Proyek Tanggul BBWS di Kutamukti Disorot: Aroma Pelanggaran Spesifikasi Menyeruak ke Publik

waktu baca 2 menit
Kamis, 5 Feb 2026 07:10 0 124 admin

KARAWANG.inspirasirakyat.id – Integritas proyek pembenahan tanggul penanggulangan banjir di Desa Kutamukti, Kecamatan Kutawaluya, kini tengah berada di bawah mikroskop publik. Pengerjaan yang dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) tersebut diduga kuat menabrak spesifikasi teknis dan tata kelola pengerjaan yang seharusnya menjadi standar mutu utama.

Berdasarkan temuan lapangan tim investigasi, terdapat indikasi kuat bahwa pemasangan batu tanggul dilakukan secara serampangan. Hal ini memicu kekhawatiran besar mengenai efektivitas infrastruktur tersebut dalam menahan laju debit air dan mencegah bencana banjir di masa depan.

Hasil kroscek di lokasi menunjukkan adanya celah-celah lebar antar material batu yang tidak terisi dengan rapat. Teknik pemasangan yang terkesan “asal jadi” ini dinilai sangat berisiko, karena air dapat dengan mudah meresap dan menggerus material pengikat di dalamnya.

Pengamat Publik, H. Udin, memberikan kritik tajam terkait teknis pengerjaan ini. Menurutnya, stabilitas tanggul adalah harga mati yang tidak boleh dikompromikan.

“Pemasangan batu seharusnya dilakukan di atas lahan yang sudah bersih dan siap secara struktur. Ukuran batu harus presisi, saling mengunci, dan celahnya wajib diisi material pengikat seperti pasir atau kerikil secara padat. Jika tahapan ini dilompati, kita hanya sedang menunggu waktu sampai tanggul ini longsor atau hancur diterjang arus,” tegas H. Udin.

Pengerjaan yang tidak sesuai standar teknis bukan sekadar masalah estetika, melainkan ancaman keselamatan publik. Tanggul yang tidak stabil berisiko tinggi mengalami degradasi struktural dalam waktu singkat. Beberapa poin krusial yang diduga diabaikan dalam proyek ini meliputi:

Kerapian Struktur: Jarak antar batu yang terlalu renggang mempermudah terjadinya erosi internal.

Kekuatan Pengunci: Pemasangan yang tidak kokoh membuat tanggul rentan terhadap tekanan hidrostatik.

Pengawasan Lemah: Dugaan pembiaran terhadap teknik pengerjaan yang tidak sesuai Standard Operating Procedure (SOP).

Publik kini mendesak BBWS untuk tidak menutup mata. Sebagai instansi yang bertanggung jawab atas pengelolaan wilayah sungai, BBWS dituntut untuk segera turun ke lokasi dan melakukan audit teknis secara menyeluruh terhadap kontraktor pelaksana.

Langkah preventif harus segera diambil sebelum proyek ini rampung 100%. Memperbaiki struktur yang cacat sejak awal jauh lebih murah dan aman dibandingkan menangani bencana akibat tanggul yang jebol karena pengerjaan yang tidak profesional. teguh,wj/red

Related Posts: