Karawang , Inspirasirakyat.id//Pembangunan suatu bangsa acapkali diukur dari tolok ukur ragawi, namun sejatinya kemajuan hakiki berawal dari unit terkecil dalam tatanan sosial: keluarga.
Dalam bingkai pemikiran tersebut, Anggota Komisi IX DPR-RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., menegaskan bahwa kapasitas sebuah daerah untuk bertransformasi sangat ditentukan oleh sejauh mana kebijakan pembangunan keluarga mampu terinternalisasi ke dalam ruang-ruang domestik masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri giat Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang berlangsung di GOR Desa Karyamulya, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang.(20/10/2026)
Keberlanjutan Program Strategis sebagai Indikator Kemajuan.
Dalam pendedarannya di hadapan warga dan jajaran lintas instansi, legislator Partai Demokrat tersebut menekankan bahwa keberlanjutan program-program tematik strategis seperti Genting, Tamasya, Gati, Sidaya, hingga Sakina merupakan indikator fundamental kemajuan peradaban lokal.
”Pembangunan keluarga tidak boleh terisolasi sebagai urusan domestik belaka, melainkan harus dimaknai sebagai fondasi geopolitik paling mendasar yang menentukan daya saing dan kedaulatan bangsa di panggung global,” urai mantan Bupati Karawang tersebut.
Ia menambahkan bahwa akselerasi menuju visi Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa intervensi hulu pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena itu, sinergi antara figur ayah dan ibu dalam pengasuhan serta perancangan keluarga menjadi imperatif moral sekaligus praktis.
Forum yang dihadiri oleh perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta jajaran Pemkab Karawang ini mengurai fokus intervensi pada tiga pilar utama.
Eradikasi Stunting & Optimalisasi Gizi. Menjamin pemenuhan nutrisi presisi sejak masa krusial 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Kemandirian & Kesejahteraan Keluarga. Memperkuat ketahanan ekonomi serta fungsi sosialisasi di tingkat rumah tangga.
Redefinisi Peran Perimbangan Pengasuhan (Ayah Teladan)Mendorong keterlibatan aktif figur ayah dalam diskursus pengasuhan dan tumbuh kembang anak, mematahkan stigma keterlibatan tunggal ibu.
Dialektika Komunitas dan Stimulus Kesejahteraan.
Suasana sosialisasi diperkaya melalui dialektika interaktif antara pemangku kebijakan dan warga lokal Desa Karyamulya. Komitmen warga dalam membangun kesadaran kolektif ini diapresiasi melalui penyerahan bantuan stimulus finansial serta sarana penunjang karsa rumah tangga.
Melalui konsolidasi kesadaran di tingkat tapak seperti Desa Karyamulya, program pembangunan keluarga tidak lagi sekadar menjadi agenda teknokratis, melainkan sebuah gerakan kebudayaan untuk mencetak generasi penerus yang cerdas, tangguh, dan berdaya saing tinggi.
TEGUH BRAWIJAYA