​Mengakar di Tapak, Menjangkau Masa Depan: Radikalisasi Ketahanan Keluarga demi Indonesia Emas 2045

waktu baca 2 menit
Jumat, 30 Okt 2026 09:08 0 15 Teguh Brawijaya

KARAWANG, Desa Makmurjaya , Inspirasi rakyat.id//Kebesaran sebuah bangsa kerap mengalami kemunduran makna ketika direduksi sebatas angka-angka kaku produk domestik bruto, megastruktur beton, dan pencakar langit. Padahal, benteng pertahanan paling hakiki dari kedaulatan negara tidak pernah dibangun dari adukan semen dan besi penyangga, melainkan dirajut dari unit paling mikro tatanan sosial: ruang domestik bernama keluarga.

​Pesan fundamental tersebut ditegaskan oleh Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., dalam Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) di GOR Futsal Desa Makmurjaya, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang (21/10/2026). Di hadapan ratusan warga dan jajaran pemangku kebijakan lintas sektor, legislator Partai Demokrat sekaligus mantan Bupati Karawang ini membedah akar persoalan bangsa dari kacamata geopolitik domestik.

​Kedaulatan Berawal dari Lini Mikro
​Menanggapi berbagai program tematik strategis seperti Genting, Tamasya, Gati, Sidaya, hingga Sakina, Cellica menegaskan bahwa deretan agenda tersebut bukan sekadar instrumen teknokratis yang berhenti di atas kertas laporan dinas.

​”Pembangunan keluarga tidak boleh terisolasi sebagai urusan privat belaka. Ini adalah fondasi geopolitik paling mendasar yang menentukan daya saing dan kedaulatan bangsa di panggung global,” tegas Cellica.

​Ia menambahkan, narasi megah menuju Indonesia Emas 2045 hanya akan meluncur menjadi utopia belaka tanpa adanya intervensi radikal pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di lini terdepan. Rekayasa sosial melalui presisi sinergi antara peran ayah dan ibu dalam perencanaan keluarga bukan lagi sebatas imbauan moral, melainkan sebuah imperatif strategis.

​Dekonstruksi Pengasuhan dan Konsolidasi Lintas Sektor
​Forum yang mengonsolidasikan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta Pemerintah Kabupaten Karawang ini membedah tiga poros intervensi struktural.

​Eradikasi Stunting & Presisi Nutrisi Penjaminan asupan gizi tanpa kompromi sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) demi memutus lingkaran setan kemiskinan intelektual.

​Kemandirian Ekonomi Domestik. Penguatan daya tahan finansial dan fungsi perlindungan sosial rumah tangga agar tidak rentan terhadap guncangan makroekonomi.

​Redefinisi Pengasuhan (Ayah Teladan) Mereduksi dogma patriarki pengasuhan tunggal oleh ibu dengan menyeret figur ayah untuk bertanggung jawab aktif dalam diskursus tumbuh kembang anak.
​Dari Dialektika Tapak Menjadi Gerakan Kebudayaan.

​Melalui pembongkaran sekat antara pemangku kebijakan dan warga di akar rumput, agenda ini bertransisi dari sekadar sosialisasi birokratis menjadi sebuah gerakan kebudayaan. Kesadaran kolektif yang terbangun turut diperkuat melalui penyerahan stimulus finansial dan sarana penunjang ketahanan rumah tangga.

​Dari tanah Karawang, sebuah pesan terkirim terang: masa depan Indonesia tidak ditentukan di meja-meja perundingan elit, melainkan dari ketangguhan dan kecerdasan yang disemaikan di dalam rumah.
​Laporan: Teguh Brawijaya

Related Posts: