KARAWANG, Inspirasirakyat.id – Anggota Komisi IX DPR RI, Cellica Nurrachadiana, menegaskan komitmennya dalam mengawal penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Karawang. Hal tersebut disampaikannya saat hadir dalam agenda Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) di GOR ABC Desa Tanah Baru, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Selasa (20/10/2026).
Sebagai legislator pusat dari Dapil Jawa Barat VII, Cellica menekankan bahwa dinamika pembangunan nasional saat ini menuntut artikulasi kebijakan kependudukan yang jauh melampaui paradigma restriksi kuantitatif masa lalu.
Menurutnya, agenda ini menjadi momentum reorientasi kebijakan publikdari sekadar pengendalian fertilitas yang populer sejak era 1980-an, menuju rekayasa kualitas SDM yang presisi, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan megatren global demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Tekankan Keterlibatan Ayah dan Modal Sosial Tangani Stunting.
Dalam paparannya di hadapan warga Pakisjaya, mantan Bupati Karawang yang kini bertugas di Senayan tersebut menyoroti bahwa penanganan tengkes (stunting) tidak lagi boleh dipandang sekadar persoalan medis-nutrisional isolatif. Stunting, tegasnya, merupakan tantangan struktural pengasuhan dan ketahanan ekonomi keluarga.
Cellica mendukung penuh langkah Kemendukbangga dalam menggaungkan Gerakan Orang Tua Asuh sebagai bentuk solidaritas sosial organik untuk memotong mata rantai ketimpangan gizi di tingkat akar rumput.
Selain itu, ia menggarisbawahi pentingnya dekonstruksi peran gender konvensional dengan menempatkan sosok ayah di garda terdepan. Keterlibatan aktif figur ayah (paternal engagement) diposisikan sebagai variabel determinan dalam menciptakan ekosistem domestik yang stabil, tangguh, dan kondusif bagi optimalisasi periode emas tumbuh kembang anak.
Pengawasan DPR RI terhadap Pendekatan Siklus Hidup Manusia
Cellica Nurrachadiana memastikan Komisi IX DPR RI terus mendorong Kemendukbangga untuk memperluas jangkauan kelembagaan melalui pendekatan interdisipliner. Sinergi yang dibangun tidak lagi terbatas pada birokrasi administratif, melainkan mengintegrasikan perspektif ilmu kesehatan, sains sosial, dan analisis keilmuan mutakhir.
Ia mengapresiasi skema pembinaan siklus hidup manusia (lifecycle approach) yang diterapkan, meliputi:
Fase Intervensi Dini Pengasuhan bayi dan balita berbasis bukti medis serta kecukupan gizi.
Fase Pembentukan Karakter Pembinaan remaja guna memitigasi risiko sosial dan mengoptimalkan potensi produktif.
Fase Geriatri Berdaya Inovasi Kelas Lansia Berdaya yang dirancang secara terstruktur untuk mewujudkan lansia mandiri, mengikis deprivasi sosial (loneliness), serta mempertahankan agensi produktif melalui karya bernilai tambah.
Dari Pembatasan Lahir Menuju Kualitas Manusia Holistik.
Evolusi Kemendukbangga/BKKBN dari peninggalan skema KB tradisional menjadi kementerian yang berfokus pada pembangunan manusia holistik dinilai Cellica sebagai langkah strategis.
Penyiapan kuantitas tanpa kualitas hanya akan menghasilkan beban demografis (demographic burden).
Sebaliknya, investasi pada pengasuhan, kesehatan mental, dan pemberdayaan antargenerasi di wilayah pedesaan seperti Pakisjaya adalah kunci utama dalam meretas bonus demografi menjadi lompatan kemajuan nasional.
Di akhir kegiatannya, Cellica menegaskan bahwa pembangunan keluarga bukan sekadar urusan domestik, melainkan fondasi geopolitik paling mendasar dalam menentukan daya saing bangsa di panggung dunia.
Penulis: Teguh Brawijaya