YOGYAKARTA , Inspirasirakyat.id– Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM 2025, Tio Ardianto, menyampaikan kritik keras terhadap satu tahun perjalanan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Dalam wawancara di program “To The Point” SINDOnews yang tayang hari ini tanggal 22 Februari 2026,
Tio menegaskan bahwa gerakan mahasiswa saat ini sedang melakukan konsolidasi besar-besaran dan menolak segala bentuk kooptasi politik.
Poin-poin utama yang disampaikan oleh Ketua BEM UGM ini terkait Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Konsolidasi Politik Tio Ardianto menyoroti tiga kebijakan utama yang dianggapnya lebih berorientasi pada konsolidasi politik ketimbang kesejahteraan rakyat:
Tio Menyebutkan MBG Sebagai Makanan Beracun Gratis, dia juga menyebutnya sebagai program yang problematik karena dianggap menggunakan logika bisnis dan ketenagakerjaan yang menciptakan ketergantungan politik menjelang 2029 . Ia juga mengkritik penggunaan anggaran pendidikan untuk program ini yang dianggap mengkhianati konstitusi terkait mandatory spending pendidikan
Disisi lain Tio Mengkritik Koperasi Desa Merah Putihsebagai alat konsolidasi politik di tingkat akar rumput (grassroot) melalui mekanisme utang yang bisa menyandera kepala desa, dan danantara dinilai sebagai upaya merangkul elit ekonomi dan mengonsolidasikan kekuatan modal untuk kepentingan politik jangka panjang.
Tio menegaskan komitmen integritas BEM UGM dengan slogan “BEM KM UGM Not For Sale”. Ia menyatakan bahwa mahasiswa tidak boleh menjadi komoditas yang bisa dibeli oleh kepentingan kekuasaan. BEM UGM juga secara tegas menolak undangan ke Istana karena menganggap pertemuan tersebut hanya seperti “parasetamol” yang meredakan nyeri sementara tanpa menyembuhkan luka bangsa .
Menanggapi isu perpecahan di kalangan mahasiswa, Tio melihatnya sebagai momentum untuk melakukan Rethinking atau memikirkan ulang model gerakan yang lebih efektif Ia mengakui adanya tantangan besar berupa godaan materi (kooptasi) dan ancaman represi yang melemahkan idealisme mahasiswa .
Sebagai solusi untuk mematahkan konsolidasi politik yang tidak sehat, BEM UGM mendorong adanya Reformasi Polri dan TNI Agar aparat tidak dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan dan juga Sistem mengkritik engkritik penempatan pejabat yang tidak sesuai keahliannya, seperti penempatan purnawirawan di Badan Gizi Nasional .
Tio juga menyarankan agar Presiden Prabowo bersikap lebih kritis terhadap laporan-laporan “Asal Bapak Senang” (ABS) dari lingkungan sekitarnya. Ia menekankan bahwa kepercayaan publik yang hilang akibat “luka konstitusi” hanya bisa dikembalikan dengan kebijakan nyata yang berpihak pada rakyat, bukan sekadar gimik politik.
“Mahasiswa dan rakyat sedang mengonsolidasikan dirinya supaya tidak ditipu lagi di 2029,” pungkas Tio Ardianto ( Red )
Editor : Hana Hardiana
Video Sumber: Mahasiswa Bukan Komoditas! Ketua BEM UGM Siap Lancarkan Gerakan Baru yang Lebih Keras | TTPA