Internasional, inspirasirakyat.id – Sebanyak 15 pekerja bantuan kemanusiaan ditemukan tewas dan dikuburkan di kuburan massal setelah serangan militer Israel di distrik Tel al-Sultan, Rafah, Gaza selatan. Para pekerja tersebut menghilang sejak Ahad, 23 Maret, saat mereka berusaha menyelamatkan korban serangan Israel di daerah tersebut. (02/04/2025)
Insiden ini menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap personel kemanusiaan dalam beberapa tahun terakhir dan memicu kecaman keras dari berbagai organisasi internasional.
Kepala bantuan PBB mengecam pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap paramedis dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS), responden pertama dari Pertahanan Sipil Gaza, dan seorang anggota staf PBB yang tewas saat menjalankan tugas darurat di Jalur Gaza selatan.
“15 pekerja darurat dan bantuan di Gaza – dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina, Pertahanan Sipil Palestina, dan PBB – ditemukan terkubur di dekat kendaraan mereka yang rusak dan bertanda jelas,” tulis Tom Fletcher di X, saat ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Pada Ahad, Jonathan Whittall, pejabat senior urusan kemanusiaan di OCHA di wilayah Palestina yang diduduki, mengatakan “jenazah delapan PRCS, enam Pertahanan Sipil, dan satu staf PBB” telah ditemukan setelah serangan Israel sekitar seminggu yang lalu.
“Mereka tewas saat mengenakan seragam mereka. Mengemudikan kendaraan yang diberi tanda dengan jelas. Mengenakan sarung tangan. Dalam perjalanan untuk menyelamatkan nyawa,” kata Whittall di X.
Para petugas medis menjadi sasaran pada tanggal 23 Maret saat mereka menuju untuk memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang yang terluka akibat penembakan Israel di daerah Al-Hashashin.
“Mereka tewas oleh pasukan Israel saat mencoba menyelamatkan nyawa. Kami menuntut jawaban dan keadilan,” kata Fletcher.
Palang Merah Internasional/Bulan Sabit Merah menegaskan bahwa ini merupakan serangan paling mematikan terhadap personel mereka dalam delapan tahun terakhir.
Raed al-Nimis, juru bicara Bulan Sabit Merah di Gaza, menyatakan, “Mereka dibunuh dengan darah dingin oleh pendudukan Israel, meskipun misi kemanusiaan mereka jelas.”
Pada Ahad 23 Maret 2024, tim darurat dari Bulan Sabit Merah Palestina dan Pertahanan Sipil Gaza berangkat menuju distrik Tel al-Sultan di Rafah selatan.
Misi mereka adalah menyelamatkan korban setelah pasukan Israel melancarkan serangan ke daerah tersebut.
PBB menyatakan, “Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa tim pertama dibunuh oleh pasukan Israel pada 23 Maret.”
Tim darurat selanjutnya yang berusaha menyelamatkan tim pertama juga mengalami nasib serupa.
Militer Israel memberikan penjelasan berbeda mengenai kejadian tersebut. Pada Ahad, mereka mengklaim bahwa pada 23 Maret, tentara menembaki kendaraan yang “bergerak dengan mencurigakan” ke arah mereka tanpa sinyal darurat.
Baru sepekan kemudian, tim PBB dapat mencapai lokasi setelah militer Israel menginformasikan di mana mereka menguburkan mayat-mayat tersebut, di daerah tandus di tepi Tel al-Sultan.
Rekaman yang dirilis oleh PBB menunjukkan para pekerja dari PRCS dan Pertahanan Sipil, mengenakan masker dan rompi oranye terang, menggali bukit-bukit tanah yang tampaknya telah ditimbun oleh buldoser Israel.
Rekaman menunjukkan mereka menggali beberapa mayat yang mengenakan rompi darurat berwarna oranye. Beberapa mayat ditemukan bertumpuk satu sama lain.
Kerumunan besar berkumpul pada Senin, 24 Maret di luar kamar mayat Rumah Sakit Nasser di kota selatan Khan Younis, saat jenazah delapan pekerja PRCS yang terbunuh dibawa keluar untuk dimakamkan.Peristiwa ini semakin menambah daftar panjang petugas medis dan kemanusiaan yang tewas dalam konflik Gaza.
Dari Jenewa, kepala Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Jagan Chapagain, menekankan bahwa staf yang terbunuh “mengenakan lambang yang seharusnya melindungi mereka; ambulans mereka ditandai dengan jelas.”
Peristiwa ini terjadi dalam konteks yang lebih luas dari kampanye militer Israel di Gaza.
Insiden ini menambah keprihatinan bagi keselamatan pekerja kemanusiaan di Gaza. Situasi ini semakin mempersulit upaya bantuan kemanusiaan yang sudah sangat terbatas di Gaza, di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk dengan ribuan warga sipil terbunuh dan jutaan lainnya terlantar akibat konflik yang berkelanjutan. ( Red )