Pasar Modal Indonesia: Barometer Kepercayaan Ekonomi dan Upaya Stabilisasi Pasca Volatilitas

waktu baca 2 menit
Senin, 24 Mar 2025 05:15 0 279 admin

Jakarta, inpirasirakyat.id (24/03/2025) – Pasar modal memegang peranan penting sebagai barometer kepercayaan ekonomi suatu negara, termasuk Indonesia. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Komisi XI DPR RI, Muhammad Misbakhun, dalam acara Capital Market Forum 2025 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada 21 Maret 2025.

“Peran pasar modal one of the most important, dalam mengukur barometer kepercayaan. Pasar modal kita mencerminkan tingkat kepercayaan,” ujar Misbakhun.

Pernyataan ini muncul di tengah upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan pasar saham Indonesia setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada 18 Maret 2025. Saat itu, IHSG anjlok hingga 7% ke level 6.084, dan BEI sempat menghentikan perdagangan sementara (trading halt) karena penurunan melebihi 5%.

Menanggapi volatilitas tersebut, Komisi XI DPR RI mengadakan serangkaian rapat dengan BI dan LPS untuk membahas langkah-langkah stabilisasi. Misbakhun mengungkapkan bahwa situasi pasar modal dipengaruhi oleh ketidakpastian global, terutama setelah Donald Trump terpilih kembali sebagai presiden Amerika Serikat.

OJK mengambil langkah-langkah konkret untuk menjaga stabilitas pasar, antara lain dengan Penerapan kebijakan buyback saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 19 Maret 2025. dan penundaan shortsell yang diumumkan pada 3 Maret 2025, bekerja sama dengan BEI.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menegaskan komitmen OJK untuk menjaga pasar modal Indonesia tetap stabil, transparan, dan berintegritas, khususnya bagi investor lokal, ritel, dan institusi.

“Ke depan kami terus berupaya untuk menjaga pasar modal stabil transparan dan integritas, khususnya untuk lokal, ritel dan institusi,” ucapnya.

Berita ini menyoroti pentingnya pasar modal sebagai indikator kepercayaan ekonomi dan upaya responsif dari regulator untuk menjaga stabilitas pasar di tengah tantangan global. ( Red )

Sumber :cnbcindonesia.com

Related Posts: