KARAWANG, Karyamulya, Kecamatan Batujaya Inspirasrakyat.id//Di antara deru air yang tertahan dan hamparan eceng gondok yang mengunci aliran sungai, Jembatan Budeman Telukbango berdiri dengan sisa-sisa martabatnya. Dibangun pada tahun 1932 oleh Burgerlijke Openbare Werken (BOW) di bawah masa pemerintahan Bupati Raden Adipati Suryamiharja, jembatan ini seharusnya menjadi monumen kemenangan peradaban. Namun kini, di tahun 2026, ia justru menjadi saksi bisu dari sebuah ironi,sejarah yang dikeramatkan secara lisan, namun dianaktirikan secara tindakan.minggu 17 mei 2026
Kalkulasi yang Tak Pernah Presisi
Ada ketidakseimbangan yang mengusik rasa keadilan di Desa Karyamulya. Di satu sisi, warga berdiri tegak sebagai pembayar pajak yang patuh,sebuah kalkulasi matematis yang pasti masuk ke kas negara. Namun di sisi lain, distribusi kesejahteraan dan pemeliharaan infrastruktur tampak seperti variabel yang tak kunjung ditemukan hasilnya.
Pemerintah seringkali terjebak dalam labirin administratif,berdebat tentang siapa yang harus memegang cangkul dan siapa yang harus mengeluarkan anggaran. Padahal, bagi warga Karyamulya, kalkulasi itu sederhana, pajak yang mereka setorkan adalah mandat bagi rasa aman. Ketika debit air naik dan ancaman banjir datang karena pendangkalan yang diabaikan, di situlah letak defisit moral para pemangku kebijakan.
Memori yang Menolak Lupa
Almarhum Pak Kabat, melalui penuturan anaknya, Yanto, mewariskan ingatan tentang masa di mana jembatan ini memiliki “grojogan” serupa air terjun yang menghidupkan ekosistem. Kini, keindahan itu terkubur di bawah sedimen lumpur dan sampah yang tak terurus.
Kekecewaan warga bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan sebuah kerinduan akan kehadiran negara yang nyata. Mereka tidak butuh retorika tentang siapa yang paling berwenang; mereka butuh solusi agar air tidak lagi masuk ke ruang tamu mereka saat hujan tiba.
Menggugat Asas Manfaat.
Menelantarkan Jembatan Budeman bukan sekadar membiarkan beton melapuk, melainkan memutus rantai sejarah dan mengabaikan hak dasar warga. Jika pemerintah terus terjebak dalam aksi “saling lempar” tanggung jawab, maka jembatan ini akan terus berdiri sebagai monumen kegagalan birokrasi.
Sudah saatnya pemerintah berhenti melihat pembangunan hanya dari angka-angka statistik di atas meja, dan mulai melihatnya dari mata warga Karyamulya yang setiap hari menatap tumpukan eceng gondok dengan kecemasan. Sejarah yang sakral tidak boleh kalah oleh ego sektoral.
”Jangan jadikan jembatan ini sebagai monumen kesunyian. Ia adalah warisan yang menuntut pemeliharaan, sebagaimana rakyat menuntut hak atas pajak yang mereka tunaikan dengan penuh ketaatan.”
Teguh Brawijaya