INT, inspirasirakyat.id – Tanah Iran kini basah oleh darah. Gelombang demonstrasi yang semula dipicu oleh jeritan lapar akibat krisis ekonomi telah bermutasi menjadi perlawanan mematikan terhadap ideologi negara. Dalam sebuah tragedi kemanusiaan yang paling kelam sejak Revolusi 1979, lebih dari 2.000 jiwa dilaporkan tewas hanya dalam hitungan hari.
Republik Islam ini kini berada di titik nadir, terjepit di antara amukan rakyatnya sendiri dan ancaman intervensi militer dari sang musuh bebuyutan, Donald Trump.
Laporan dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. Hingga Selasa (13/1), sedikitnya 2.003 orang tewas diterjang peluru dan kekerasan aparat.
Angka ini mengerikan: empat kali lipat lebih berdarah dibandingkan protes Mahsa Amini tahun 2022, namun terjadi dalam durasi yang jauh lebih singkat.
Sembilan anak-anak dilaporkan turut menjadi korban dalam kekacauan ini. Di balik blokade internet yang mencekik, saksi mata menggambarkan Teheran layaknya kota hantu yang hangus—bangunan pemerintah menjadi puing, mesin ATM hancur, dan moncong senjata aparat mengintai di setiap sudut jalan.
Dari balik layar ponselnya, Donald Trump menyiramkan bensin ke api yang sedang berkobar. Melalui Truth Social, ia memicu adrenalin para demonstran dengan seruan provokatif.
“Para patriot Iran, TERUSLAH BERPROTES – KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA KALIAN!!! Bantuan sedang dalam perjalanan,” tulis Trump.
Meski kemudian ia sedikit melunak di hadapan media dengan dalih menunggu verifikasi data, pernyataan awal Trump telah mengirimkan pesan jelas: Washington sedang mengincar momentum untuk meruntuhkan rezim Ayatollah.
Tak tinggal diam, Sang Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei (86), muncul ke publik dengan narasi perlawanan. Di hadapan massa pro-pemerintah yang meneriakkan kutukan ke arah Barat, Khamenei menuduh demonstran sebagai “tentara bayaran pengkhianat.”
Ancaman rezim tidak main-main. Jaksa Agung Iran telah mengeluarkan fatwa hukum yang mengerikan: siapa pun yang berani turun ke jalan menentang pemerintah akan dicap sebagai “Musuh Tuhan” (Moharebeh), sebuah label yang secara otomatis menjadi tiket menuju tiang gantungan.
Kini, Iran berada di persimpangan jalan yang sangat berbahaya. Di satu sisi, rakyat yang sudah kehilangan rasa takut terus meneriakkan “Mati untuk Khamenei” di tembok-tembok kota. Di sisi lain, elite keamanan Iran mulai menuding Trump dan Benjamin Netanyahu sebagai otak pembantaian ini.
Dunia kini menahan napas. Apakah ini akhir dari teokrasi Iran, ataukah awal dari perang saudara yang akan menghanguskan seluruh Timur Tengah? Satu yang pasti: jeritan dari jalanan Teheran kini telah berubah menjadi raungan revolusi yang tak lagi bisa diredam hanya dengan gas air mata. (Red)
Sumber ; CNBC Indonesia