Mengenal Ajaran Dan Pemikiran Spiritual Kontroversi Manunggaling Kawula Gusti, Syekh Siti Jenar

waktu baca 4 menit
Jumat, 11 Apr 2025 15:34 0 1872 REDAKSI

Karawang, inspirasirakyat.id – Inti ajaran Syekh Siti Jenar terpusat pada konsep Manunggaling Kawula Gusti, sebuah pemahaman tentang ketuhanan yang bertujuan untuk memperjelas makna persatuan antara hamba dan Tuhan (Muryanto, 2004). Pemikiran ini dianggap radikal dan kontroversial, dipandang sebagai tantangan terhadap ortodoksi keagamaan yang didukung oleh Kerajaan Demak dan Walisongo (Mulyani, 2006). Para wali menuduh Syekh Siti Jenar menyebarkan ajaran sesat yang didasarkan pada hawa nafsu dan interpretasi pribadi (Mulkhan, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, 2006). ( 11/04/2025)

Dalam esensinya, Syekh Siti Jenar melihat Tuhan sebagai realitas yang melampaui penglihatan inderawi, dilambangkan dengan keindahan bintang-bintang (Mulkhan, Pergumulan Islam-Jawa, 1999). Tuhan memiliki dua puluh sifat yang terintegrasi dalam satu esensi mutlak, yaitu “zat” Allah, yang dipandang sebagai sumber keselamatan, bersifat halus, dan sabda-Nya abadi (Purwadi, 2004).

Pandangan Syekh Siti Jenar tentang jasmani dan rohani juga unik. Beliau melihat kehidupan duniawi sebagai kematian, dan kehidupan sejati adalah keabadian yang terlepas dari keterikatan jasad, yang pada akhirnya akan hancur. Roh manusia dianggap terperangkap dalam tubuh, menjadi sumber penderitaan karena tubuh terus menarik jiwa untuk memenuhi keinginan-keinginan duniawi (Otoman, 2020).

Menarik untuk mengkorelasikan pemikiran Syekh Siti Jenar ini dengan ajaran sufi kontroversial dari abad ke-9 Masehi, Husain bin Mansur al-Hallaj. Al-Hallaj dikenal dengan ucapan-ucapannya yang eksentrik, terutama “Ana al-Haqq” (Akulah Kebenaran/Tuhan), yang membuatnya dihukum mati karena dianggap melakukan hulul (penjelmaan Tuhan dalam diri manusia).

Meskipun terdapat perbedaan konteks zaman dan budaya, terdapat resonansi dalam pemahaman Manunggaling Kawula Gusti dengan sebagian aspek pemikiran Al-Hallaj. Keduanya menekankan kedekatan yang sangat intim antara hamba dan Tuhan, bahkan mencapai tingkat penyatuan spiritual. Bagi Al-Hallaj, pengalaman mistis yang mendalam dapat membawa seorang sufi pada kesadaran akan identitas dirinya yang “fana” dalam kebesaran “Al-Haqq”. Sementara bagi pengikut Syekh Siti Jenar, Manunggaling Kawula Gusti dipahami sebagai kembalinya segala makhluk kepada Sang Pencipta, di mana dalam proses kembali tersebut, terjadi penyatuan dengan-Nya (Anggrajaya, 2021).

Penting untuk dicatat bahwa para pengikut Syekh Siti Jenar membantah bahwa beliau pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Interpretasi Manunggaling Kawula Gusti lebih ditekankan pada aspek ontologis, yaitu bahwa Tuhan adalah tujuan akhir segala sesuatu, dan persatuan yang dimaksud adalah persatuan dalam esensi dan tujuan, bukan peleburan substansi. Namun, kemiripan dalam penekanan kedekatan yang ekstrem dengan Tuhan inilah yang kemungkinan besar memicu kontroversi dan tuduhan ajaran sesat, sebagaimana yang dialami oleh Al-Hallaj berabad-abad sebelumnya.

KESIMPULAN: Warisan Sufisme Kontroversial di Tanah Jawa

Syekh Siti Jenar adalah figur sentral yang kontroversial dalam sejarah Islam di Jawa. Meskipun detail kehidupannya kabur, pemikiran dan ajarannya, terutama tentang Manunggaling Kawula Gusti, memberikan dampak signifikan pada perkembangan spiritualitas masyarakat Jawa. Ajarannya yang liberal dan dianggap menyimpang dari arus utama Islam yang dianut Walisongo dan Kerajaan Demak, menekankan persatuan hamba dan Tuhan dengan interpretasi yang unik.

Paralelisme dengan pemikiran sufi seperti Al-Hallaj, meskipun dalam konteks yang berbeda, menunjukkan adanya benang merah dalam sejarah sufisme mengenai pengalaman mistis dan pemahaman tentang kedekatan hamba dengan Tuhan yang melampaui batas-batas konvensional. Keduanya, Syekh Siti Jenar dan Al-Hallaj, menghadapi penolakan dan stigma karena pandangan mereka yang dianggap melampaui batas ortodoksi pada masanya.

Upaya Syekh Siti Jenar dalam mengadaptasi Islam dengan budaya lokal Jawa, meskipun mempermudah penerimaan di kalangan masyarakat, juga menjadi salah satu faktor pemicu kontroversi. Pemikirannya tentang kehidupan dunia sebagai ilusi dan kehidupan sejati sebagai keabadian yang bebas dari jasad mencerminkan dimensi spiritual yang mendalam dan berbeda dari pemahaman umum.

Meskipun kontroversial, ajaran Manunggaling Kawula Gusti tetap menjadi bagian penting dari khazanah spiritualitas Jawa, merefleksikan pencarian akan hakikat keberadaan dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa dalam konteks budaya lokal. Memahami ajaran Syekh Siti Jenar secara objektif dan mendalam, termasuk potensi korelasinya dengan tokoh-tokoh sufi kontroversial seperti Al-Hallaj, penting untuk menghindari kesalahpahaman dan menghargai keragaman pemikiran dalam sejarah Islam. Artikel ini mendorong kajian lebih lanjut mengenai integrasi nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal serta dinamika pemikiran sufistik di Nusantara. ( Red )

Editor : Hana Hardiana

 

Sumber : https://sejarah.fkip.uns.ac.id/2025/01/02/manunggaling-kawula-gusti-sufisme-syekh-siti-jenar/

Rujukan

Anggrajaya, S. (2021). Pemikiran Pendidikan Islam Raden Patah dan Siti Jenar. An-Nafah: Jurnal Pendidikan dan Keislaman, 1(1), 30-39.

Chodjim, A. (2013). Syekh Siti Jenar: Makrifat Kasunyatan.

Derani, S. (2020). Syekh Siti Jenar: Pemikiran dan Ajarannya. Buletin Al-Turas, 20(2), 325–348.

Fahrurrozi, & Sitorus, N. J. (2023). Ajaran Tarekat Syekh Siti Jenar. EKHSIS: Jurnal Ekonomi, Syariah dan Studi Islam, 1(1), 1-11.

Mulkhan, A. M. (1999). Pergumulan Islam-Jawa. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Mulkhan, A. M. (2006). Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Mulyani, S. (2006). Tasawuf Nusantara: Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka. Jakarta: Kencana.

Muryanto, S. (2004). Ajaran MANUNGGALING KAWULA-GUSTI (A. Kusuma Djaya Hadi Purwanto (Ed.)). Kreasi Wacana.

Otoman. (2020). Pluralisme Agama dalam Pemikiran Syekh Siti Jenar. Ampera: A Research Journal on Politics and Islamic Civilization, 1(2), 107-125.

Related Posts: