KARAWANG,Inspirasirakyat.id//– Sebuah gelombang amarah yang dahsyat kini tengah menghantam fondasi Bank BJB Cabang Karawang. Bukan sekadar keluhan biasa, namun sebuah “Tsunami” kecaman meledak setelah borok pelayanan lembaga keuangan plat merah ini terkuak ke permukaan. Praktik pelayanan yang dianggap diskriminatif dan tidak transparan kini mengancam akan menenggelamkan reputasi bank yang selama ini berlindung di balik slogan “Pelayanan Prima”.
Dinding Transparansi yang Jebol
Prahara ini dipicu oleh perlakuan “kejam” yang dialami RE, ahli waris almarhum nasabah berinisial ES. Hak dasar nasabah untuk mendapatkan informasi pinjaman justru diblokade oleh birokrasi bank yang berbelit-belit. Jeritan ahli waris seolah tak berdaya menghadapi dinding tebal Bank BJB, hingga akhirnya media turun tangan meruntuhkan tembok bungkam tersebut.
Indikasi bahwa bank baru “bergerak” setelah diendus media menjadi bukti nyata bahwa sistem internal mereka sedang mengalami pembusukan moral.
Serangan Mematikan dari “Singa Hukum” Karawang.
Ketua DPC Peradi Karawang, Asep Agustian (Askun), melontarkan serangan verbal yang menghancurkan martabat slogan bank tersebut. Tanpa ampun, Askun menguliti satu per satu dosa pelayanan Bank BJB yang dianggap sudah keluar dari jalur kemanusiaan.
“Ini bukan lagi pelayanan, ini penghinaan terhadap nasabah! Slogan mereka hanya sampah jika kenyataannya rakyat kecil diperas dan dipersulit. Jangan salahkan masyarakat jika terjadi rush (penarikan uang massal) yang akan meluluhlantakkan bank ini!” gertak Askun dengan nada menggelegar, Senin (27/4).
Askun juga mengungkap skandal yang lebih gelap,dugaan konspirasi penjualan aset almarhum ES secara sepihak dan klaim agunan bodong pada produk yang seharusnya tanpa jaminan. “Aturan mana yang mereka pakai? Ini murni perampokan hak nasabah!” tegasnya
Kini, tuntutan agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera melakukan “eksekusi” pemeriksaan terhadap petinggi Bank BJB Karawang semakin tak terbendung. Publik menuntut OJK tidak hanya menjadi penonton di tengah bencana ini. Audit investigatif harus dilakukan sebelum kepercayaan publik benar-benar rata dengan tanah.
Pukulan terakhir yang bisa mematikan eksistensi Bank BJB di Karawang adalah desakan agar Bupati dan Pejabat Pemkab segera menarik seluruh dana APBD dari bank tersebut. Jika uang rakyat justru digunakan oleh lembaga yang menindas rakyat, maka eksodus dana besar-besaran adalah harga mati yang harus dibayar oleh BJB.
“Tarik semua dana APBD! Jangan biarkan uang rakyat Karawang mengendap di bank yang tidak punya hati dan nurani. Biarkan mereka bangkrut jika tidak mampu berbenah!” pungkas Askun.
Hingga berita ini meledak di tengah masyarakat, manajemen Bank BJB Karawang masih tampak “mati suri” tanpa pembelaan yang berarti.
AGS// Teguh Brawijaya