Perang Dagang AS-China Memicu Anjloknya Harga Minyak Global

waktu baca 4 menit
Rabu, 9 Apr 2025 09:35 0 371 REDAKSI

Internasional, inspirasirakyat.id– Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam sebesar 7% pada perdagangan Jumat (4/4/2025), mencapai level terendah dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Gelombang aksi jual ini dipicu oleh pengumuman China terkait tarif balasan terhadap produk-produk asal Amerika Serikat. Langkah tersebut kembali menghidupkan kekhawatiran akan perang dagang yang semakin membayangi prospek pertumbuhan ekonomi global dan meningkatkan risiko resesi di kalangan investor. ( 08/04/2023)

Berdasarkan laporan Reuters pada Sabtu (5/4/2025), harga minyak mentah Brent anjlok US$4,56 atau 6,5% menjadi US$65,58 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot lebih dalam, yakni sebesar US$4,96 atau 7,4%, dan berakhir di level US$61,99 per barel.

Sepanjang sesi perdagangan, harga Brent sempat menyentuh titik terendah di US$64,03 dan WTI tergelincir hingga US$60,45, yang merupakan level terendah dalam empat tahun terakhir. Secara keseluruhan, dalam sepekan terakhir, harga Brent telah terkoreksi sebesar 10,9% dan WTI merosot 10,6%.

Sebagai negara pengimpor minyak terbesar di dunia, China secara resmi mengumumkan akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 34% untuk seluruh produk yang berasal dari Amerika Serikat, efektif mulai 10 April 2025. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang dinilai mencapai rekor tertinggi dalam lebih dari satu abad. Beberapa negara lain juga dikabarkan bersiap untuk mengambil tindakan serupa.

Tidak hanya minyak, komoditas utama lainnya seperti gas alam, kedelai, dan emas juga ikut mengalami penurunan harga. Di sisi lain, pasar saham global turut berjatuhan akibat sentimen negatif dari eskalasi perang dagang ini.

Bank investasi JPMorgan bahkan memperbarui proyeksi ekonominya, meningkatkan probabilitas terjadinya resesi global menjadi 60% sebelum pergantian tahun. Angka ini naik signifikan dari prediksi sebelumnya yang sebesar 40%.

Analis energi dari United ICAP, Scott Shelton, menilai bahwa harga minyak saat ini sudah cukup mencerminkan nilai wajar, kecuali ada indikasi yang lebih jelas mengenai besaran penurunan permintaan. Ia memproyeksikan harga WTI dapat turun ke kisaran US$50-an dalam waktu dekat, mengingat lemahnya prospek permintaan di tengah tekanan pasar.

“Harga minyak WTI diperkirakan akan berakhir di kisaran pertengahan hingga atas US$50-an dalam waktu dekat, mengingat permintaan akan menurun di bawah kondisi pasar saat ini,” ujar Shelton.

Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, turut memberikan komentarnya terkait kebijakan tarif baru Trump. Ia menyebut tarif tersebut lebih tinggi dari perkiraan dan memperingatkan dampaknya terhadap ekonomi, mulai dari peningkatan inflasi hingga perlambatan pertumbuhan. Hal ini diprediksi akan menjadi tantangan besar bagi bank sentral dalam mengambil kebijakan ke depan.

Tekanan dari Produksi OPEC+ dan Faktor Lain

Selain sentimen perang dagang, harga minyak juga tertekan oleh langkah OPEC+ yang mempercepat rencana peningkatan produksi. Konsorsium produsen minyak ini kini menargetkan penambahan pasokan sebesar 411.000 barel per hari mulai bulan Mei, meningkat signifikan dari rencana sebelumnya sebesar 135.000 barel per hari.

Lebih lanjut, keputusan pengadilan Rusia yang menolak penangguhan fasilitas ekspor terminal Laut Hitam milik Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) juga memberikan tekanan pada harga minyak. Langkah ini diperkirakan akan mencegah potensi gangguan pasokan dari Kazakhstan.

Meskipun impor minyak, gas, dan produk olahan dikecualikan dari tarif terbaru AS, dampak tidak langsung dari kebijakan Trump tetap signifikan. Kebijakan ini berpotensi mendorong inflasi, menahan pertumbuhan ekonomi, dan memperburuk konflik dagang global yang sudah memanas.

Goldman Sachs pun merevisi turun target harga minyak Brent dan WTI untuk Desember 2025 masing-masing sebesar US$5, menjadi US$66 dan US$62 per barel.

“Kami melihat risiko terhadap proyeksi harga baru ini masih ke arah penurunan, terutama untuk tahun 2026, karena tekanan resesi global dan potensi peningkatan pasokan OPEC+,” tulis Kepala Riset Minyak Goldman Sachs, Daan Struyven.

Senada dengan Goldman Sachs, HSBC juga menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2025, dari 1 juta barel per hari menjadi 0,9 juta barel per hari, dengan mempertimbangkan dampak tarif dan strategi produksi OPEC+.

Dengan tensi perang dagang yang semakin meningkat dan ketidakpastian ekonomi global yang membayangi, pasar minyak diperkirakan akan terus mengalami volatilitas dalam beberapa waktu ke depan. Investor akan terus memantau perkembangan kebijakan perdagangan antara AS dan China serta respons dari negara-negara lain untuk mengukur dampak lebih lanjut terhadap pasar energi global. ( Red )

Related Posts: