Karawang, Inspirasirakyat.id – Perayaan hari jadi Desa Walahar yang ke 44Th, pada 19 hingga 20 September 2025, sukses mencuri perhatian dengan mengedepankan kekayaan seni tradisi. Dalam kesuksesan agenda budaya ini, Riungan Bagong Luncat tampil memukau sebagai kontributor utama, menghadirkan kesenian yang telah lama dirindukan masyarakat.
Hari jadi Desa Walahar dibuka pada malam sabtu, 19 September, dengan hiburan Team Gerengseng Ade Astrit. Acara ini berlangsung meriah dan kondusif berkat sinergi pengamanan dari tiga pilar masyarakat: Pemuda Pancasila (PP), Linmas, dan Karang Taruna.
Ketiga organisasi ini kembali menunjukkan komitmen mereka pada hari Sabtu, 20 September, dengan membantu pengaturan lalu lintas selama karnaval budaya odong-odong yang menarik minat banyak warga.
Puncak partisipasi budaya terjadi menjelang sore hari, ketika Riungan Bagong Luncat tampil membawakan pentas seni debus. Atraksi ekstrem ini seketika menyedot perhatian dan antusiasme warga.
“Warga sangat antusias dan sorak gembira karena kesenian tradisional tersebut sangat sudah langka dan sudah hampir tidak terlihat di setiap acara-acara hiburan,” ujar salah seorang warga. Fenomena ini menjadi indikasi kuat betapa masyarakat merindukan sajian kesenian warisan budaya mereka yang kini jarang disajikan di ruang publik. Peran Riungan Bagong Luncat menjadi kunci dalam mengisi kekosongan nostalgia kultural tersebut.
Kemeriahan hari jadi ditutup pada malam harinya dengan pertunjukan seni wayang golek oleh dalang legendaris, Dadan Sunandar Sunarya. Wayang golek ini menjadi acara puncak yang ditunggu-tunggu, dan semangat PP, Linmas, serta Karang Taruna tetap membara hingga selesainya pergelaran.
Ketua Riungan Bagong Luncat menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan dan berharap kontribusi mereka dapat berlanjut:
“Alhamdulillah kami bisa berkontribusi dan mensukseskan acara hari jadi Desa Walahar. Semoga di setiap tahun Riungan Bagong Luncat selalu dilibatkan,” harapnya.
Kesuksesan Hari jadi Desa Walahar membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah desa, organisasi masyarakat, dan kelompok seni tradisional mampu menciptakan perayaan yang tak hanya menghibur, tetapi juga bermakna dan berpotensi melestarikan akar budaya di tengah perubahan zaman.(Red)