Merajut Asa di Balik Dinding Asrama: Kisah Murid Sekolah Rakyat Cimahi

waktu baca 4 menit
Sabtu, 12 Jul 2025 11:15 0 349 REDAKSI

Cimahi, Inspirasirakyat.id – Di sudut Kota Cimahi, sebuah asa baru tengah bersemi. Alfa Firdaus, seorang bocah berusia 13 tahun, menatap ranjang bertingkat yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu mimpinya. Mulai Senin (14/7/2025), ia akan memulai babak baru hidupnya di asrama Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 08 Kota Cimahi, berpisah sementara dengan dekapan hangat sang bunda demi menggapai masa depan yang lebih cerah.

SRMP, sebuah inisiatif mulia dari Presiden Prabowo Subianto, hadir sebagai mercusuar harapan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia. Program ini tak hanya menawarkan pendidikan gratis, namun juga menyediakan fasilitas asrama yang memadai, memastikan setiap siswa dapat fokus belajar tanpa terbebani masalah ekonomi. Tujuannya jelas: mengentaskan kemiskinan melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Alfa adalah satu dari 100 murid baru SRMP 08 Kota Cimahi yang beruntung. Selama setahun ke depan, mereka akan menempati gedung Sentra Abiyoso Cimahi, fasilitas milik Kementerian Sosial (Kemensos) RI di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan.

Sebelumnya, Alfa bersekolah di SD Negeri Sindangsari. Ia sempat mencoba mendaftar ke SMP Negeri 16 Cimahi, namun tak lolos seleksi. Kebimbangan menyelimuti, hingga kemudian tawaran dari Sekolah Rakyat datang. “Orang tua mendaftarkan saya ke sini,” ujar Alfa, raut wajahnya memancarkan kelegaan. Ia tak mempermasalahkan belajar di luar sekolah “normal” teman-temannya. Baginya, terpenting adalah tak lagi membebani orang tuanya yang bekerja serabutan. “Ya senang saja sekolah di sini, enggak apa-apa temannya cuma sedikit yang penting tetap bisa belajar,” tambahnya.

Alfa dan teman-teman barunya akan tinggal di asrama Sentra Abiyoso. Kamar-kamar asrama, seperti ruangan Soedirman tempat Alfa ditempatkan, cukup memadai. Ranjang bertingkat yang tertata rapi, lemari besi pribadi, dan beberapa kamar mandi di setiap ruangan, memastikan kenyamanan para penghuni. Lantai satu diperuntukkan bagi murid laki-laki, sementara lantai dua untuk murid perempuan, dengan fasilitas serupa yang menunjang aktivitas belajar dan istirahat.

“Siap (tinggal di asrama), enggak apa-apa pisah dulu sama orang tua. Banyak teman-teman juga di sini, tadi sudah kenalan,” kata Alfa dengan antusias.

Raut sedih tak dapat disembunyikan dari wajah Irma, ibunda Alfa. Sebagai ibu rumah tangga dengan pendapatan suami yang tak menentu, Irma sadar betul bahwa keputusan ini adalah demi masa depan anaknya. “Awalnya tetangga bilang ada Sekolah Rakyat, sekolahnya gratis tapi asrama. Saya coba daftar, malahan anak sempat ditolak karena sudah penuh. Tapi beberapa hari kemudian dihubungi siap enggak katanya anak belajar di Sekolah Rakyat? Ya saya jawab siap, kebetulan anak juga mau,” tutur Irma.

Meski berat berpisah dengan buah hatinya, Irma ikhlas menitipkan Alfa di asrama. Beruntungnya, ada jadwal kunjungan yang memungkinkan mereka melepas rindu. “Saya nggak pernah pisah lama sama dia sejak kecil, ya enggak apa-apa demi cita-cita dia. Kan masih bisa menjenguk nanti, kebetulan enggak jauh dari Cigugur ke Leuwigajah,” ujarnya.

Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, turut memastikan kesiapan SRMP 08 Kota Cimahi. Ia memuji fasilitas yang ada, dari ruang kelas ber-AC yang ideal untuk 25-30 siswa, hingga asrama yang nyaman dengan kasur dan lemari baru. “Insyaallah betah,” kata Gus Ipul optimis.

Secara nasional, sebanyak 9.700 murid baru SR dari keluarga miskin dan miskin ekstrem akan memulai pendidikan di 100 titik di seluruh Indonesia. Seleksi murid dilakukan berdasarkan Data Terpadu Sejahtera Ekstrem Nasional (DTSEN), memastikan bantuan tepat sasaran. “Syaratnya harus masuk desil 1 atau 2 dengan status miskin atau miskin ekstrem. Jadi disurvei oleh tim dan diseleksi, kami tidak membuka pendaftaran,” jelas Gus Ipul.

Pembelajaran akan dimulai pada 14 Juli mendatang, bersamaan dengan hari pertama tahun ajaran baru 2025/2026, diawali dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Dari 100 titik yang direncanakan, 63 SR sudah siap, sementara sisanya akan menyusul beroperasi akhir Juli 2025. Total guru yang terlibat mencapai 1.500 orang, didukung 200 tenaga kependidikan.

Salah satu guru yang akan mengabdikan ilmunya di SRMP 08 Kota Cimahi adalah Septiana Iman, seorang pria berusia 27 tahun yang akan mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. “Saya mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris, lulus kuliah dari IKIP Siliwangi angkatan 2015. Pengalaman mengajar sekitar 2 tahunan,” terang Septiana.

Keterlibatannya bermula dari tawaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bagi lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pra Jabatan. Setelah serangkaian tes ketat dari Kemensos, termasuk psikotes, TOEFL, dan wawancara, Septiana dinyatakan lolos. Ia mengakui, benefit yang ditawarkan sangat menjanjikan, termasuk gaji pokok, tunjangan kinerja, dan tunjangan profesi, jauh lebih sejahtera dibanding menjadi guru honorer. “Di sini status saya jadinya PPPK, tapi dari Kemensos,” pungkasnya.

Sekolah Rakyat bukan hanya sekadar institusi pendidikan, melainkan sebuah jembatan menuju masa depan yang lebih baik bagi anak-anak bangsa, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih impian. (Red/Junaedi)

Sumber : detikjabar

Related Posts: