Karawang,Inspirasirakyat.id//– Sejarah Indonesia sering kali digambarkan sebagai palagan para lelaki. Namun, di antara derap sepatu lars dan kepulan asap diplomasi, terselip nama Mr. Maria Ulfah. Beliau bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah; ia adalah pena yang menuliskan hak-hak perempuan dalam lembaran negara yang baru lahir.
Dari Leiden Menuju Jantung Revolusi
Lahir di tengah kebangsawanan intelektual Kuningan pada 1911, Maria Ulfah membawa mimpi melintasi samudra. Di Universitas Leiden, ia tak hanya merajut ilmu hukum, tetapi juga menempa ideologi. Di bawah bimbingan literatur yang diperkenalkan Sutan Sjahrir, Maria menyadari bahwa hukum adalah senjata, dan pendidikan adalah cara terbaik untuk mematahkan belenggu patriarki serta kolonialisme.
Ia pulang bukan hanya sebagai sarjana, melainkan sebagai perempuan pertama yang menyandang gelar Master in de Rechten. Sebuah pencapaian yang saat itu seolah meruntuhkan tembok mustahil bagi kaumnya.(8/4)
Menteri Sosial: Tangan Lembut di Tengah Prahara
Ketika Republik masih seumur jagung dan dibayangi agresi, Presiden Soekarno memanggilnya. Maria Ulfah didapuk sebagai Menteri Sosial dalam Kabinet Sjahrir II (1946). Jabatan ini menjadikannya srikandi pertama yang duduk di kursi tertinggi pemerintahan.
Di pundaknya, urusan kemanusiaan dan kesejahteraan rakyat yang terkoyak perang diletakkan. Baginya, tugas menteri bukan sekadar administrasi, melainkan sebuah pengabdian untuk menyembuhkan luka bangsa yang baru saja merdeka.
Linggarjati: Diplomasi di Bawah Bayang Gunung Ciremai
Mungkin, tanpa Maria Ulfah, sejarah diplomasi Indonesia akan berbeda. Saat meja perundingan menemui jalan buntu terkait lokasi, Maria menawarkan Linggarjati.
Rumah di kaki Gunung Ciremai itu menjadi saksi bisu kelihaian Maria dalam menjamin keamanan dan kenyamanan bagi para delegasi. Sebagai putri sang Bupati, ia menyulap tanah kelahirannya menjadi panggung diplomasi dunia. Di sana, kedaulatan Indonesia diperjuangkan lewat kata-kata, bukan senjata.
Warisan Abadi Sang Srikandi
Hingga akhir hayatnya pada 15 April 1988, Maria tetap menjadi mercusuar bagi gerakan perempuan. Ia adalah arsitek di balik layar yang memperjuangkan perlindungan hukum bagi istri dan anak, memastikan bahwa kemerdekaan Indonesia juga berarti kemerdekaan bagi setiap perempuan di dalamnya.
Kini, ia beristirahat di Kalibata, namun semangatnya tetap hidup setiap kali seorang perempuan Indonesia melangkah masuk ke ruang sidang atau naik ke podium kekuasaan.
“Bagi Maria Ulfah, hukum bukanlah deretan teks yang kaku, melainkan napas yang membebaskan mereka yang tertindas.”
#PahlawanBangsa #MariaUlfah #SejarahIndah #PerempuanInspiratif #Linggarjati1946
Teguh Brawijaya