KARAWANG , Inspirasirskyat.id//— Alam tidak pernah berdusta, tapi penguasa kerap pura-pura buta. Itulah potret muram yang kini membekap Dusun Pisangan, Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang. Di saat abrasi dan gelombang pasang (rob) terus menggerus daratan tanpa kenal ampun, infrastruktur vital di wilayah pesisir ini justru dibiarkan hancur lebur tanpa penanganan yang memadai.
(13/8/2026)
Jalur Mati Pesisir Utara
Akses utama yang menjadi urat nadi kehidupan warga dan wisatawan kini tinggal tumpukan puing. Badan jalan hancur berkeping-keping hingga melumpuhkan total laju kendaraan roda empat.
Tak ada lagi jalur yang layak dilalui; yang tersisa hanyalah kubangan lumpur licin yang siap mencelakakan siapa saja, terutama saat hujan mengguyur atau air laut pasang merangsek naik. Demi bertahan hidup dan menjaga mobilitas harian, warga terpaksa menembus batas keputusasaan dengan melompati pekarangan-pekarangan rumah demi mencari jalan alternatif.
Ingatan kolektif masyarakat masih merekam masa ketika pantai Dusun Pisangan menjadi magnet ribuan pelancong. Pesona alamnya memikat dan menjadi kebanggaan warga lokal.
Namun, keindahan itu kini direnggut paksa oleh laut yang kian beringas, menyisakan reruntuhan yang hanya dilirik oleh segelintir pemancing.
Ironisnya, alih-alih melihat aksi cepat tanggap dari tangan-tangan pemegang kebijakan, warga Cemarajaya justru dibiarkan berjuang sendiri melawan amukan alam. Jeritan pesisir ini seolah menguap di balik meja-meja birokrasi yang dingin.
Warga Dusun Pisangan sudah lelah dengan janji manis dan penanganan setengah hati. Yang mereka tuntut hari ini adalah intervensi nyata, terukur, dan berkelanjutan dari pemerintah daerah hingga pusat,mulai dari pembangunan infrastruktur pemecah ombak hingga normalisasi garis pantai.
“Saya sudah sering bilang ke pemdes karena pemerintahan terdekat apa cuma didengar, apa cuma di lihat, apa cuma permohon rakyat kecil ujarnya “
Jika pengambil kebijakan terus menutup mata dan bergerak lamban, jangan heran jika suatu hari nanti Dusun Pisangan benar-benar lenyap dari peta administratif akibat keserakahan abrasi dan keteledoran birokrasi.
Teguh Brawijaya