Karst Pangkalan: Perekat Sejarah Tarumanegara yang Terancam

waktu baca 2 menit
Kamis, 17 Apr 2025 05:37 0 490 REDAKSI

Karawang, inspirasirakyat.id – Keberadaan formasi karst di wilayah Pangkalan, Karawang selatan, menyimpan nilai sejarah yang sangat tinggi dan erat kaitannya dengan kejayaan Kerajaan Tarumanegara. Hal ini diungkapkan oleh peneliti geologi, T Bachtiar, yang menjelaskan bahwa karst Pangkalan menjadi sumber daya penting bagi pembangunan dan pelestarian bangunan bersejarah di kawasan Batu Jaya. (17/04/2025)

Menurut Bachtiar, kompleks candi-candi di Batu Jaya yang didominasi material bata merah, memanfaatkan kapur bakar yang berasal dari karst Pangkalan sebagai bahan perekat atau plester. Penggunaan kapur dari karst ini diyakini menjadi salah satu faktor utama yang membuat bangunan-bangunan kuno tersebut mampu bertahan hingga berabad-abad lamanya.

“Karst yang memiliki nilai arkeologi seperti di Pangkalan seharusnya dikonservasi dan dimanfaatkan bukan dalam bentuk barang melainkan jasa. Misalnya geowisata, geotrek dan geopark. Di karst Pangkalan menggoreskan sejarah bagaimana orang zaman dulu memanfaatkan karst dengan begitu bijaksana,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bachtiar menuturkan bahwa Kerajaan Tarumanegara yang berdiri selama kurang lebih 12 generasi, menunjukkan betapa kearifan lokal masyarakat Sunda pada masa itu sangat menghargai dan memanfaatkan karst dalam berbagai aspek kehidupan. Ia menjelaskan bahwa meskipun permukaan karst terlihat gersang, namun di dalamnya menyimpan sumber air yang terus mengalir serta gua-gua yang menjadi habitat penting bagi kelelawar dan ekosistem unik lainnya.

Namun, Bachtiar выразил keprihatinannya terhadap ancaman eksploitasi karst yang terus berlanjut di wilayah tersebut. Ia menekankan bahwa kegiatan penambangan karst secara masif dapat dipastikan akan merusak keseimbangan lingkungan dan menghilangkan jejak-jejak sejarah yang tak ternilai harganya.

“Apabila karst terus dieksploitasi, lanjut dia, maka dapat dipastikan akan merusak keseimbangan lingkungan.”

Bachtiar juga menyoroti perlunya evaluasi terhadap industri tambang, khususnya yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan semen untuk pembangunan. Ia mempertanyakan mengapa izin pertambangan karst terus bermunculan dan semakin sporadis, terutama jika kebutuhan semen di dalam negeri dianggap sudah surplus.

“Saya pikir kebutuhan semen di kita sudah surplus. Jikalau demikian ya seharusnya jangan orientasinya untuk diekspor. Sebab semen ini kan katakanlah barang mentah. Jadi mengapa banyak negara lain yang membuka tambang karst di Indonesia, karena memang di negaranya tidak boleh,” paparnya, mengindikasikan adanya potensi praktik yang kurang bertanggung jawab dalam pemanfaatan sumber daya alam ini.

Pernyataan T Bachtiar ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian karst Pangkalan, tidak hanya dari sudut pandang lingkungan, tetapi juga sebagai warisan sejarah yang memiliki nilai edukasi dan potensi wisata yang berkelanjutan. Diperlukan tindakan nyata dari pemerintah dan pihak terkait untuk meninjau kembali izin-izin tambang dan mengedepankan model pemanfaatan karst yang lebih bijaksana dan berorientasi pada konservasi. ( Red/Opan)

Related Posts: