Bali Lirik Teknologi Pertanian Israel: Langkah Cerdas atau Inkonsistensi

waktu baca 2 menit
Rabu, 16 Apr 2025 11:13 0 155 REDAKSI

Bali, inspirasirakyat.id – Gubernur Bali, I Wayan Koster, melontarkan wacana segar namun kontroversial: meniru teknologi pertanian canggih ala Israel demi mendongkrak produktivitas sektor agraris Pulau Dewata. Keinginan ini diungkapkan dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2026, Senin (15/4).

Koster terkesan dengan kemampuan Israel yang mampu menyulap lahan gersang menjadi lumbung pangan modern, bahkan memanfaatkan embun sebagai sumber irigasi. Ia pun menginstruksikan jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali untuk segera mempelajari dan mengadopsi sistem pertanian berteknologi tinggi yang diterapkan di Negeri Zionis tersebut.

“Israel bisa mengolah lahan yang kering dan tandus menjadi subur, bahkan memanfaatkan embun sebagai sumber air. Kenapa kita yang lahannya subur tidak bisa berinovasi?” tegasnya dalam pidato yang disambut beragam reaksi.

Langkah ambisius ini tak pelak memicu perdebatan hangat. Sejumlah pihak menyoroti potensi inkonsistensi sikap Koster, mengingat penolakannya terhadap partisipasi tim nasional Israel dalam Piala Dunia U-20 pada tahun 2023 lalu. Direktur Center for Food, Resilience, and Innovation Strategic Think Tank (CFIRST), Arif Mirdjaja, menyarankan agar Bali lebih mengoptimalkan pengembangan pertanian berbasis kearifan lokal yang dinilai telah teruji keberlanjutannya.

Sorotan tajam juga tertuju pada kinerja Kepala Dinas Pertanian Bali yang dianggap belum menunjukkan langkah progresif dalam mengimplementasikan teknologi modern untuk meningkatkan hasil panen. Gubernur Koster sendiri menyoroti penurunan signifikan surplus beras Bali, dari 100.000 ton pada tahun 2018 menjadi hanya 53.000 ton pada tahun 2024. Ironisnya, penurunan ini terjadi di tengah masifnya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan pariwisata yang terus menggerogoti potensi agraris Bali.

Menanggapi polemik yang berkembang, Gubernur Koster menegaskan bahwa inisiatif ini bukanlah upaya untuk meninggalkan kearifan lokal yang telah menjadi identitas Bali. Sebaliknya, ia menekankan bahwa adopsi teknologi pertanian Israel merupakan strategi cerdas untuk memperkuat ketahanan pangan Bali di masa depan, seiring dengan tantangan perubahan iklim dan tekanan alih fungsi lahan.

“Ini bukan berarti kita melupakan tradisi, tapi bagaimana kita memadukan kearifan lokal dengan inovasi teknologi agar pertanian Bali semakin kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Langkah Gubernur Koster ini tentu akan terus menjadi perbincangan hangat. Akankah Bali berhasil memetik pelajaran berharga dari teknologi pertanian Israel tanpa mengorbankan nilai-nilai kearifan lokalnya? Waktu yang akan menjawab. ( Red )

Related Posts: