Niatnya Ibadah Tapi Malah Berujung Pamer? Begini Fenomena ‘Sapi Sultan’ yang Lagi Viral Menjelang Idul Adha!

waktu baca 3 menit
Senin, 25 Mei 2026 00:31 0 40 REDAKSI

Redaksi, inspirasirakyat.id – Dua hari menjelang Hari Raya Idul Adha, linimasa media sosial kita dibanjiri oleh promosi hewan kurban digital, notifikasi konfirmasi transfer virtual account, hingga pamflet ucapan selamat yang estetik. Di era modern yang serba praktis ini, menunaikan ibadah kurban kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit, bahkan detik, lewat layar ponsel.

Namun, di tengah kemudahan teknologi yang luar biasa ini, sebuah pertanyaan besar muncul ke permukaan: Sudahkah kita meresapi substansi terdalam dari Idul Adha, ataukah ibadah ini terjebak dalam pusaran rutinitas yang mekanis.

Secara historis, Idul Adha adalah tentang kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS—sebuah narasi agung mengenai ketaatan mutlak, keikhlasan mendalam, dan kerelaan melepaskan apa yang paling dicintai demi perintah Tuhan.

Di era modern, “hewan sembelihan” adalah simbol. Tantangan terbesar manusia modern bukan lagi menyembelih hewan secara fisik, melainkan menyembelih “ego” dan “keterikatan” pada materi.

“Kemudahan teknologi seperti QRIS, aplikasi kurban, dan live streaming kandang adalah berkah yang mempermudah aspek sarana (wasilah). Namun, substansi kurban (ghayah) tetap berada di dalam hati: sejauh mana proses transfer uang itu diiringi dengan rasa empati dan kerelaan berbagi,” ungkap Dr. Ahmad Junaedi, sosiolog agama.

Era modern sering kali memicu sifat individualisme dan pamer (flexing). Dua hari menjelang Idul Adha, media sosial kerap dipenuhi oleh foto-foto sapi berukuran raksasa (“Sapi Monster” atau “Sapi Sultan”) dengan harga ratusan juta rupiah.

Di sinilah substansi Idul Adha diuji. Keikhlasan kurban tidak diukur dari berapa jumlah likes di Instagram atau seberapa viral video penyerahan hewan tersebut. Esensinya terletak pada ketakwaan, seperti yang tertuang dalam pesan universal bahwa bukan daging atau darah hewan itu yang mencapai Tuhan, melainkan ketakwaan dari yang berkurban.

Agar ibadah kurban tahun ini tidak sekadar menjadi transaksi finansial biasa, berikut adalah cara meresapi maknanya di era digital:

Aspek Modernitas Redefinisi Substansi
Kemudahan Cashless Jangan biarkan kemudahan memicu sifat impulsif. Jadikan momen transfer sebagai bentuk niat yang sadar dan tulus untuk membantu sesama, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Kurban Online (Distribusi Jauh) Memilih kurban di daerah pelosok/terpencil lewat lembaga filantropi berarti kita belajar mempercayai orang lain dan meluaskan dampak sosial, melampaui ego wilayah kita sendiri.
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Memaknai kurban modern dengan mendukung pembagian daging tanpa plastik sekali pakai (menggunakan besek bambu atau daun jati). Ini adalah bentuk pengorbanan ego kenyamanan demi menjaga bumi ciptaan-Nya.

Dua hari ke depan, jutaan hewan akan disembelih, dan dagingnya akan didistribusikan. Di era di mana kesenjangan sosial terkadang terasa semakin lebar akibat modernisasi, Idul Adha hadir sebagai jembatan penyeimbang.

Idul Adha di era modern mengajarkan kita bahwa teknologi boleh maju, cara bertransaksi boleh berubah, dan efisiensi boleh meningkat. Namun, rasa kemanusiaan, empati kepada mereka yang berkekurangan, dan ketundukan jiwa kepada Sang Pencipta harus tetap sekokoh sejarahnya.

Sebelum takbir berkumandang dua hari lagi, mari sejenak meletakkan ponsel kita, menata niat di dalam hati, dan bertanya pada diri sendiri: Sudahkah ego kita ikut dikurbankan tahun ini?

Redaksi, inspirasirakyat.id

Sumber : Googel Ai

Related Posts: