Sorotan Terkini: Mantan Pengacara Pegi Setiawan Kritik Langkah Gubernur Jawa Barat, Singgung Gaya Kepemimpinan Emosional

waktu baca 2 menit
Kamis, 10 Apr 2025 04:08 0 287 admin

Bogor, inspirasirakyat.id – Publik yang mengikuti perkembangan kasus Vina dan Pegi Setiawan tentu masih mengingat sosok Toni RM. Pengacara yang sempat mendampingi Pegi hingga pembebasannya ini baru-baru ini menjadi perhatian usai melontarkan pandangannya terhadap serangkaian kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.(10/04/2025)

Kebijakan-kebijakan Dedi Mulyadi, mulai dari pembatasan study tour, penertiban kawasan wisata di Puncak Bogor, hingga inisiatif pemberantasan premanisme, memang kerapkali memicu diskusi di tengah masyarakat. Tak terkecuali Toni RM, yang turut memberikan komentarnya.

Dalam sebuah wawancara di program ‘Catatan Demokrasi’ yang disiarkan melalui kanal YouTube tvonenews pada Kamis (10/4/2025), Toni RM secara terbuka menyampaikan kritik terhadap gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi. Sebagai warga Indramayu, Toni mengaku mencermati betul kinerja gubernurnya.

Mantan pengacara Pegi Setiawan tersebut menilai bahwa langkah-langkah Dedi Mulyadi cenderung “terlalu berani,” mengutip pernyataan Presiden yang sebelumnya pernah menyinggung gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat sebagai “ngeri-ngeri sedap.”

Toni RM menyoroti kebijakan pembongkaran tempat wisata Hibisc Fantasy di Puncak Bogor, yang disebut-sebut sebagai salah satu penyebab banjir di kawasan Jabodetabek. Ia mengingatkan Dedi Mulyadi untuk mempertimbangkan dampak kebijakannya terhadap pihak-pihak yang merasa dirugikan, yang juga merupakan warga Jawa Barat.

Lebih lanjut, Toni RM mempertanyakan apakah gebrakan-gebrakan Dedi Mulyadi tersebut lebih merupakan pencitraan semata, lantaran dinilai belum diikuti dengan regulasi yang jelas. Ia mencontohkan kebijakan pelarangan study tour dan penertiban lainnya, mempertanyakan apakah kajian akademis dan peraturan daerah atau peraturan gubernur terkait telah disusun.

“Pencitraan itu suatu kesan yang sengaja dibuat agar bercitra positif. Kalau gebrakan itu tidak dieksekusi dengan peraturan, jadi hanya disampaikan di media sosial, kemudian diliput media, tapi peraturannya tidak dibuat. Maka saya simpulkan itu pencitraan,” tegas Toni RM.

Selain itu, Toni RM menyinggung curhatan mantan kepala dinas pendidikan di Indramayu yang merasakan dampak dari perbedaan pandangan dengan gubernur terkait kebijakan study tour. Dari kasus ini, Toni RM menyoroti pentingnya sikap seorang pemimpin yang mengayomi seluruh warganya dan tidak memperlakukan pihak yang berbeda pandangan sebagai “musuh.”

“Sebagai seorang pemimpin, pengusaha asosiasi itu juga warganya, jangan sampai dijadikan seperti musuh. Kan kita lihat cara Kang Dedi Mulyadi ini emosional dalam mengeksekusi kebijakan. Jadi saya menyimpulkan, jangan sampai orang-orang yang dinilai melanggar aturan itu dianggap sebagai musuh, sehingga perlakuannya agak kurang santun, agak sok,” pungkas Toni RM.(Red/R.T)

 

Related Posts: