BANDUNG, inspirasirakyat.id – Semangat Hari Kartini yang membara, sayangnya, tak mampu menerangi malam mencekam yang kembali menyelimuti warga Sukahaji. Hanya berselang beberapa jam usai laporan kekerasan dilayangkan ke polisi, sekelompok anggota organisasi masyarakat (ormas) bersenjata tajam kembali menyerbu lahan sengketa milik warga pada Senin malam (21/4/2025).
Aksi brutal itu terjadi tepat pukul 21.26 WIB. Warga yang tengah berjaga di posko perjuangan di atas lahan seluas 7,5 hektar tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan ormas yang datang denganBringas. Tanpa basa-basi, bentrokan kembali tak terhindarkan. Dua warga dilaporkan terluka parah akibat sabetan senjata tajam, meninggalkan luka menganga di dahi dan punggung mereka.
Informasi mengenai kejadian ini pertama kali mencuat melalui unggahan akun X @zenrs pada Senin (15/4/2025) pukul 13.32 WIB. Dalam keterangannya, akun tersebut menuliskan, “Terjadi bentrok antara warga Sukahaji dgn sekelompok orang. Kekerasan bahkan dilakukan kpd ibu-ibu yg mencoba menjaga titik bekas kebakaran kemarin.” Disebutkan pula bahwa insiden tersebut baru saja terjadi sekitar satu jam sebelum unggahan dibuat.
Unggahan tersebut juga menyertakan video berdurasi 2 menit 43 detik yang memperlihatkan sekelompok laki-laki menyerang warga. Dalam rekaman terlihat jelas bagaimana para penyerang, yang mengenakan pakaian preman, berusaha memukul dan menyeret warga tanpa pandang bulu, termasuk kaum ibu yang berusaha melindungi diri dan lokasi bekas kebakaran.
Akun @zenrs kemudian mengidentifikasi salah satu korban ibu-ibu dalam video tersebut. “Ibu-ibu yg dipukul sampe terjengkang di klip ini namanya Teh Yuriani, warga Sukahaji dari RT/RW 06/03,” tulisnya sambil melampirkan foto korban yang diduga mengalami luka akibat insiden tersebut.
Kejanggalan mencuat tatkala aparat kepolisian yang sebelumnya disebut-sebut berjaga di lokasi, tampak tak berdaya atau bahkan absen saat insiden kekerasan kembali pecah. Harapan warga akan hadirnya perlindungan hukum pun kian menipis, digantikan oleh rasa takut dan ketidakpastian yang mendalam.
Kini, Sukahaji bak medan perang yang sunyi. Beberapa gang menuju rumah warga terpaksa ditutup sebagai bentuk pertahanan terakhir. Warga memilih untuk bertahan di posko sekretariat, satu-satunya tempat yang mereka anggap aman untuk melindungi diri dan memperjuangkan hak atas tanah mereka. Konflik agraria ini tak hanya merenggut rasa aman, tetapi juga mengikisSolidaritas sosial. Kecurigaan merajalela, dan ruang gerak warga semakin terbatas. ( Red )
Editor : Hana Hardiana