KEMILAU PANEL SURYA DALAM GULITA PENGAWASAN

waktu baca 2 menit
Rabu, 13 Mei 2026 12:04 0 14 Teguh Brawijaya

Mendedah Mosi Keberatan KMP,Kala Marwah Inspektorat Purwakarta Dipertaruhkan di Atas Atap Puskesmas

PURWAKARTA, Inspirasirakyat.id//– Di bawah langit Purwakarta, deretan panel surya yang menghiasi atap-atap Puskesmas kini tak sekadar menjadi penangkap cahaya, melainkan menjadi saksi bisu sebuah diskursus besar tentang integritas. Sebuah polemik pecah kala Komunitas Madani Purwakarta (KMP) melayangkan mosi keberatan terhadap Inspektorat Daerah. Isunya tunggal namun fundamental: Lumpuhnya mata pengawas di balik proyek miliaran rupiah.(13/5/2026)

Syahdan, ketegangan ini bermula dari sebuah dalih. Pihak Inspektorat, sang penjaga gawang internal pemerintah, bergeming di balik tameng administratif. Mereka menyatakan bahwa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tersebut tidak termasuk dalam “mandatori pengawasan”.

Bagi KMP, pernyataan ini adalah sebuah paradoks yang getir. Bagaimana mungkin sebuah ikhtiar strategis yang menyentuh urat nadi pelayanan kesehatan masyarakat hanya dipandang melalui kacamata kaku di balik meja kerja?

“Ada jurang yang menganga antara laporan di atas kertas dengan realitas fungsional di lapangan,” ujar Ketua KMP, Zaenal Abidin. Dengan retorika yang tenang namun tajam, ia menambahkan, “Kita tidak sedang berdebat soal kerapihan kuitansi, melainkan memastikan bahwa setiap rupiah mandat rakyat bertransformasi menjadi manfaat yang nyata, bukan sekadar monumen formalitas.”

KMP menuding adanya “estetika pengawasan” yang menyesatkan. Praktik pengawasan yang hanya bersandar pada reviu daring via OMSPAN tanpa verifikasi fisik dianggap sebagai pengerdilan tugas APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah).

PLTS bukanlah sekadar benda mati; ia adalah sistem teknologi tinggi yang rawan akan degradasi sel surya dan kerumitan sinkronisasi listrik. Tanpa audit substantif yang menyentuh fisik alat, maka transparansi publik sejatinya tengah dipertaruhkan di meja spekulasi. KMP menuntut APIP kembali ke khitahnya sebagai Early Warning System sang pemberi peringatan dini agar proyek negara tidak berakhir menjadi barang rongsokan yang mahal.

Kini, bola panas berada di tangan Inspektorat. Publik menanti sebuah sikap ksatria,mampukah lembaga pengawas ini keluar dari zona nyaman administratif menuju audit lapangan yang benderang?
Audit transparan bukanlah sekadar menjawab kegelisahan KMP, melainkan pembuktian bahwa integritas birokrasi di Purwakarta belum luntur. Namun, sebuah peringatan keras telah digemakan. Apabila diplomasi ini menemui jalan buntu, KMP siap membawa obor persoalan ini ke tataran yang lebih tinggi.

Sebab, di balik cahaya panel surya yang terang, tak boleh ada lubang pengawasan yang dibiarkan tetap gelap.

“Satu audit lapangan jauh lebih berharga daripada seribu laporan di balik meja.”

Teguh Brawijaya

Related Posts: