“Hayo, siapa yang belum tahu? WhatsApp ternyata lahir dari tangan pria yang pernah ditolak kerja oleh Facebook!”

waktu baca 2 menit
Rabu, 13 Mei 2026 09:56 0 81 REDAKSI

Redaksi, inspirasirakyat.id – Di balik kemudahan kita mengirim pesan singkat setiap hari, tersimpan salah satu kisah paling inspiratif dalam sejarah Lembah Silikon. Kisah ini bukan tentang lulusan kampus ternama yang mendapat modal besar, melainkan tentang seorang imigran yang pernah hidup dari jatah kupon makan pemerintah.

Lahir di sebuah desa kecil di luar Kiev, Ukraina, Jan Koum tumbuh dalam kondisi yang jauh dari kemewahan. Di rumahnya, listrik dan air panas adalah barang langka. Pada usia 16 tahun, ia dan ibunya pindah ke California, Amerika Serikat, untuk menghindari gejolak politik.

Di Amerika, kehidupan tidak langsung membaik. Ibunya bekerja sebagai pengasuh anak, sementara Jan bekerja sebagai pembersih lantai di toko kelontong. Untuk makan sehari-hari, mereka harus mengandalkan bantuan sosial (food stamps). Namun, di tengah keterbatasan itulah, Jan mulai menunjukkan ketertarikannya pada dunia komputer.

Tanpa biaya untuk kuliah di tempat bergengsi, Jan belajar pemrograman secara otodidak. Ia membeli manual buku jaringan komputer dari toko buku bekas dan mengembalikannya setelah selesai membacanya agar uangnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain.

Keahliannya ini membawanya bekerja di Yahoo!, tempat ia bertemu dengan Brian Acton, yang kelak menjadi mitra bisnisnya dalam membangun WhatsApp.

Pada tahun 2009, Jan melihat potensi besar pada App Store yang baru dirilis oleh Apple. Ia ingin menciptakan aplikasi yang memungkinkan orang saling berkirim status dan pesan tanpa biaya SMS yang mahal.

Filosofi Jan sangat tegas: Privasi adalah segalanya. Tumbuh di negara dengan pengawasan pemerintah yang ketat membuatnya benci pada iklan dan pencurian data. Itulah alasan mengapa WhatsApp tetap bersih dari iklan selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinannya.

Momen paling dramatis terjadi pada tahun 2014. Facebook (sekarang Meta) mengakuisisi WhatsApp senilai 19 miliar USD (sekitar Rp280 Triliun kala itu).

Alih-alih merayakannya di hotel mewah, Jan memilih untuk menandatangani dokumen akuisisi di sebuah gedung tua yang tidak mencolok. Gedung itu adalah kantor dinas sosial tempat ia dulu mengantre kupon makan. Ini adalah simbol “balas dendam” paling elegan terhadap kemiskinan masa lalunya.

Redaksi Inspirasirakyat.id

Sumber : Ai

Related Posts: