​Menyemai Harapan Organik di Bumi Galuh: Narasi Sehat Herdiat Sunarya untuk Masa Depan Ciamis

waktu baca 3 menit
Kamis, 9 Apr 2026 11:11 0 38 admin

CIAMIS, Inspirasirakyat.id//– Di bawah langit Kecamatan Pamarican yang teduh, sebuah langkah visioner bagi kedaulatan pangan berkelanjutan resmi dipancangkan. Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, menginisiasi Gerakan Tanam Padi Organik Tingkat Kabupaten 2026 yang berlokasi di hamparan hijau Kelompok Tani Parikesit, Desa Bangunsari, Kamis (09/04/2026).

​Momentum ini bukan sekadar seremoni agraria biasa. Kehadiran jajaran Forkopimda, pucuk pimpinan Bank Indonesia Tasikmalaya, hingga para pemangku kebijakan daerah, menegaskan bahwa transisi menuju pertanian organik adalah sebuah konsensus besar untuk mengubah wajah peradaban tani di Kabupaten Ciamis.

​Pemilihan Kelompok Tani Parikesit sebagai episentrum gerakan ini pun terasa sangat presisi. Sebagai peraih Juara 2 Bank Indonesia Award 2025, kelompok ini adalah manifestasi dari harmoni antara tradisi dan inovasi yang telah diakui secara nasional.

​Restorasi Ekologi: Membasuh Luka Tanah

​Dalam orasinya yang sarat akan nilai kemanusiaan, Bupati Herdiat menyentuh sisi fundamental dari sebuah kehidupan: kesehatan tanah. Ia memaparkan kegelisahannya atas kondisi tanah yang kian jenuh akibat dekade penggunaan bahan kimia yang masif.

​”Tanah kita tengah bercerita tentang kelelahannya. Paparan kimia yang berlebih bukan hanya merusak unsur hara, tapi juga menitipkan jejak pada setiap butir nasi yang kita konsumsi. Maka, beralih ke organik adalah langkah kita memuliakan alam demi memuliakan kesehatan masyarakat,” tutur Herdiat dengan nada penuh penekanan.

​Ia menekankan bahwa transformasi ini adalah sebuah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran. Baginya, keberhasilan satu petak lahan organik akan menjadi literasi visual yang jauh lebih kuat daripada sekadar retorika di atas kertas.

​Emas Hijau di Pasar Dunia

​Namun, narasi organik ini tidak berhenti pada isu kesehatan semata. Ada nilai kemewahan ekonomi yang coba dibidik. Herdiat memaparkan fakta empiris bahwa efisiensi biaya produksi organik justru berbanding lurus dengan produktivitas yang mengagumkan, yakni mencapai 8 hingga 9 ton per hektare.

​Secara eksklusif, ia menyoroti bagaimana beras organik Ciamis kini mulai dipandang sebagai komoditas “premium” di pasar global. Permintaan yang terus mengalir dari Jepang, Malaysia, hingga Singapura menjadi bukti bahwa produk tani lokal Ciamis memiliki daya tawar yang elegan di mata dunia.

​Proteksi dan Strategi di Tengah El Niño

​Menyadari tantangan ke depan, Pemerintah Kabupaten Ciamis telah menyiapkan instrumen pendukung mulai dari subsidi bibit hingga ketersediaan pupuk organik. Bupati juga mendorong revitalisasi peran desa dengan menjadikan “tanah bengkok” sebagai etalase pertanian organik yang prestisius.

​Menjelang akhir kunjungannya, Herdiat memberikan pesan saksama terkait anomali cuaca. Di tengah bayang-bayang fenomena El Niño, ia mengimbau para petani untuk memiliki kecerdasan dalam membaca ritme alam agar produksi tetap berada pada titik kulminasi terbaik.

​Melalui Gerakan Tanam Padi Organik ini, Ciamis sedang menuliskan kembali naskah masa depannya: sebuah daerah yang mampu berswasembada dengan cara yang paling terhormat—yakni dengan tetap menjaga napas bumi agar tetap segar dan murni.

ACepfebri

Related Posts: