BAYANG-BAYANG DI BALIK BUMDES SEDARI, KETIKA PENGAWAS MENELAN DIRINYA SENDIRI

waktu baca 2 menit
Sabtu, 4 Apr 2026 09:48 0 26 admin

KARAWANG,Insirasirakyat.id//Di balik hamparan tambak dan angin laut Kecamatan Cibuaya, sebuah anomali sedang membusuk di Desa Sedari. Ini bukan lagi soal angka-angka di atas kertas anggaran, melainkan tentang sebuah entitas yang kehilangan wajahnya.(4/4/2026)

Satu Tubuh, Dua Kepala.

Di Desa Sedari, garis antara “yang mengawasi” dan “yang diawasi” telah melebur menjadi satu siluet yang mengerikan. Ketua BPD, yang seharusnya menjadi mata bagi masyarakat, diduga telah merasuki kursi Bendahara BUMDes Sedari Jaya. Dalam kegelapan tata kelola ini, aturan seperti UU No. 6 Tahun 2014 dan Permendagri No. 110 Tahun 2016 seolah hanya menjadi mantra usang yang tak lagi mempan mengusir ambisi.

Bagaimana mungkin seseorang bisa menatap cermin dan menuntut pertanggungjawaban dari bayangannya sendiri? Di sini, transparansi bukan lagi cahaya, melainkan tirai hitam yang menutup rapat-rapat perputaran uang rakyat.

Dokumen yang Terlahir dari Ketiadaan
Misteri semakin mencekam saat Kepala Desa Sedari, Bisri, melempar pernyataan yang menggetarkan bulu kuduk. Ia mengaku tak pernah menghembuskan napas kehidupan pada SK pengangkatan tersebut.

“Saya bingung itu SK muncul dari mana,” bisiknya, seolah-olah dokumen itu muncul dari dimensi lain.
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Sebuah dokumen resmi telah menampakkan wujudnya—lengkap dengan tanda tangan dan stempel basah yang seakan masih berbau tinta segar. Sebuah benda mati yang memiliki “nyawa” tanpa ada yang mengaku sebagai penciptanya. Siapa yang menggerakkan pena itu di tengah malam?

Pertandingan yang Sudah Mati
Dengan aturan yang diabaikan—mulai dari Perda Karawang hingga Perbup—Desa Sedari kini terjebak dalam permainan yang hasilnya sudah dipahat di batu nisan sebelum peluit ditiup. Dana desa yang seharusnya menjadi darah segar bagi kesejahteraan warga, kini berisiko terjebak dalam lingkaran setan yang tak berujung.

Ketika pengawas telah menjelma menjadi pemain, maka tak ada lagi suara untuk rakyat. Yang tersisa hanyalah keheningan akuntabilitas, di mana uang bergerak dalam sunyi, dan aturan hanyalah pajangan di dinding-dinding kantor yang mulai retak.
Teguh Brawijaya

Related Posts: