​Karawang Berduka,Di Bawah Atap “Saringan” Hujan, Kakek Aming dan Nenek Icah Menanti Nurani Pemerintah

waktu baca 2 menit
Kamis, 26 Mar 2026 05:50 0 144 REDAKSI

​KARAWANG, Inspirasirakyat.id//Pedes Jeritan kemiskinan dari Dusun Bayur, RT 003 RW 008, Desa Parungsari, Kecamatan Pedes, kini menjadi tamparan keras bagi wajah birokrasi Kabupaten Karawang. Kakek Aming dan Nenek Icah, sepasang lansia yang sudah renta, dipaksa bertahan hidup dalam kondisi yang jauh dari kata manusiawi.(25/3)

​Saat hujan lebat mengguyur, rumah mereka tak lagi menjadi pelindung. Air hujan menerobos masuk melalui celah-celah genteng yang carut-marut, memaksa kedua lansia ini menampung air tersebut yang ironisnya sering kali terpaksa menjadi air minum sehari-hari.

​Kesaksian Warga,”Rumah Itu Bergoyang Saat Angin Kencang”
​Menurut keterangan warga sekitar yang kerap merasa iba, kondisi rumah tersebut sudah sangat mengkhawatirkan.

​”Kami selalu was-was setiap ada angin kencang. Rumah Kakek Aming seolah ada yang menggerakkan, bergoyang hebat seperti mau roboh. Kasihan, biliknya sudah bolong-bolong, angin malam langsung menusuk ke dalam.

Kami harap pemerintah jangan tutup mata,” ujar salah seorang tetangga dengan nada lirih.

​Kondisi darurat di Dusun Bayur ini memicu pertanyaan besar bagi instansi terkait.
​Dinas PRKP Karawang,Ke mana larinya anggaran program Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni)? Mengapa gubuk yang sudah reyot dan mengancam nyawa ini luput dari verifikasi lapangan?

​Di mana fungsi pendampingan bagi lansia terlantar? Kakek Aming dan Nenek Icah adalah potret nyata kemiskinan ekstrem yang butuh intervensi jaminan sosial segera.

Masyarakat mendesak agar tim dari Dinas PRKP dan Dinas Sosial segera turun ke lokasi. Jangan menunggu gubuk ini rata dengan tanah dan memakan korban jiwa baru birokrasi mulai bergerak.


​Kami mengajak seluruh elemen masyarakat dan aktivis kemanusiaan di Karawang untuk terus menyuarakan ketidakadilan ini. Redaksi Inspirasirakyat.id membuka kanal informasi bagi siapa saja yang ingin memberikan dukungan atau mendesak transparansi anggaran kemiskinan di wilayah Kecamatan Pedes.

​Bilik bambu yang penuh lubang ini adalah saksi bisu betapa “dinginnya” perhatian pemerintah daerah. Jika untuk urusan mendasar seperti tempat tinggal yang aman saja gagal dipenuhi, lantas untuk siapa anggaran triliunan rupiah itu dikelola?
ARAB//TIM

Related Posts: